Just A Story

Sepotong Celana Jeans
Kala sore hari, ketika mentari mulai tenggelam langit telihat indah gulungan ombak menari-nari dan menambah keindahan sore itu. Ditemani angin sepoi-sepoi dalam duduk aku termenung teringat sang pencipta dalam hatiku berbisik “Tuhan, alam indah ini kau ciptakan dengan begitu sempurna, kini ku sadari betapa maha kuasa nya dirimu” .
Namaku boy, aku adalah sang putra dari timur tepatnya maumere, flores, NTT.
Umurku tahun ini genap 21 tahun, ayah dan ibuku adalah seorang petani. Aku bangga mempunyai orangtua yang begitu baik. Mereka adalah sosok inspirasi untuk ku karena perjuangan dan kerja keras mereka, aku diam-diam mengidolakan mereka.
Suatu hari, aku termenung dan duduk diatas pohon  kelapa depan rumahku yang kebetulan letaknya didepan pantai. dalam pemandangan, ombak menari-nari dan  aku berkata pada diriku sendiri.
aku ingin menjadi pribadi yang mandiri, aku bertekad untuk merantau”.
Namun, saat aku memberitahu kedua orangtua ku  bahwa aku ingin merantau, mereka tidak mengijinkanku karena yang mereka tahu bahwa orang yang merantau kebanyakan akan lupa dengan kampung halaman nya sendiri. Ya, apa boleh buat jika orangtuaku tidak mengijinkan nya.
Besok tepat  perayaan hari natal 25 desember tahun 1991, kami lantas bersiap-siap untuk melakukan segala persiapan menyambut perayaan natal. Ketika aku beranjak berdiri menuju kamar aku terduduk sedih, apa yang dapat ku pakai untuk esok hari pergi ke gereja. Aku tidak mempunyai baju kemeja dan sepotong celana jeans atau celana bahan panjang. Lalu diam-diam aku masuk menyelinap kedalam kamar ayah dan ibuku, aku membuka lemari pakaian dan aku pun menemukan celana bahan dan kemeja, serta sepatu yg tergeletak di bawah kasur itu semua milik ayahku. Lalu ku ambilah celana serta kemeja dan sepatu milik ayahku untuk kupakai esok hari.

Butiran embun pagi terasa sejuk berjatuhan membasahi dedaunan, kucoba membuka jendela kamarku.. melihat pagi.. menemukan suara alam dan sentuhan kicau burung.. inilah pagiku, awal ceritaku dimulai kembali. Aku segera beranjak dari kamar menuju belakang untuk membasuh diriku. Setelah selesai aku membasuh diriku, aku masuk kedalam kamar ku untuk berganti pakaian. Mulai ku gunakan satu persatu perlengkapanku. Kemeja, celana, sepatu lalu kuambil minyak kelapa ku usapkan pada rambutku, ku ambil tali untuk mengikat celana dipingganggku ya karena ukuran pinggang ayahku lebih besar dari pinggangku. Kupandangi diriku didepan cermin. Aku terdiam sejenak menatap pemanpilanku yang menurutku sangat OK. Karena takut ayah mengetahui pakaian dan sepatu nya ku gunakan akhirnya ku buka pintu kamar kulihat tidak ada siapapun dan aku tahu ayah pasti sedang mandi dan ibu pasti sedang bersiap di dalam kamarnya, akupun lari keluar dan berteriak ”ayah, ibu aku berangkat ke gereja duluan”  lalu larilah aku menuju gereja yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Sesampainya digereja aku melihat segerombolan laki-laki sedang memandangku, ya mereka adalah teman-temanku. Namun saat aku melangkahkan kaki menuju mereka, dengan suara riuh mereka menertawakan dan mengejek ku karena penampilanku. Kemeja lusuh, celana gombrang yang kebesaran, sepatu kebesaran serta aroma minyak kelapa dari rambut ku. Mereka semua mengejek dan menertawakanku dengan senang nya mereka berkata “hey boy, lihatlah betapa  anehnya dirimu.. apa kau tidak mempunyai cermin dirumahmu? Hahaha lihat kami semua,anak seusia kami seharusnya memakai kemeja keren dan celana jeans yang sedang trend serta sepatu yang bagus tidak seperti dirimu” sedang aku berdiam, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Lalu aku pun melangkah mundur memilih masuk kedalam gereja dan duduk sendiri. Entah apa yang kupkikirkan namun aku merasa ada yang sakit dari dalam hatiku. Setelah misa selesai aku pun berlari meninggalkan gereja menuju rumahku. Aku beridiam diri dikamarku. Entah sudah jam berapa ternyata aku tertidur, setelah ku bangungkan diriku aku merasa haus lalu ku langkahkan kakiku ke dapur untuk mengambil air putih. Saat aku ingin membuka pintu kamarku, kudengar ada tamu sedang berbincang dengan ayahku saat ku intip itu adalah paman dari keluarga ayahku.
Dan aku penasaran ketika mereka membicarakan bahwa paman ku akan pergi besok pagi ke kota Palue. Aku berfikir sejenak, dengan mengikuti pamanku ke palue dari situ aku bisa ke luar dari pulau ini karena aku teringat dengan tekad ku yang ingin merantau apalagi dengan kejadian yang tadi teman-teman lakukan padaku, aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa aku mampu dan sanggup hanya untuk mempunyai sepotong celana jeans. Akhirnya malam ini kuputuskan bahwa besok pagi aku harus ikut dengan pamanku tanpa sepengtahuan ayah dan ibuku. Malam ini kupersiapkan segala perlengkapan. Hanya 5 potong, baju 2 potong kain sarung dan 2 potong celana rumah serta beberapa uang tabungan yang kumiliki.
Pagi buta aku bergegas pergi menuju rumah pamanku, ku pandangi ayah dan ibu yang masih tertidur, rumah berbilik bambu serta pemandangan indah depan rumah. Aku berharap, semoga kelak aku kembali ke tanah ini aku sudah menjadi orang yang sukses. Saat aku sampai di rumah pamanku aku melihat mereka segera berangkat, ku tunggu ditepi jalan mereka menggunakan mobil pick up dan ada beberapa orang yang menumpang juga. Lalu saat mobil pamanku hampir menghampiriku aku segera memakai topi dan menutupi wajahku supaya tidak ketauan bahwa ini adalah diriku kebetulan matahari juga belum turun jadi gelap masih menghampiri desa ini. Untunglah paman tidak menyadari keberadaanku, aku menyetopi dan langsung naik duduk dibelakang. Setibanya di kota Palue aku segera turun dan langsung pergi, entah apa yang ada dalam fikirku aku bertemu dengan seorang berusia diatasku 5 tahun ia bertanya kepaaku “mau kemana dan darimana asalmu?” lalu ku jawab “ saya dari maumere dan  ingin pergi merantau ke jakarta” dan ia tersenyum menjawabku “ jika kau ingin kesana ingat, hidup seorang perantau sangatlah keras tidaklah mudah bagi kita perantau dari desa untuk merantau ke kota apalagi kota jakarta yang terkenal kota terkejam. Baiklah kita harus ke pelabuhan dahulu untuk menyebrangi pulau ini, mari ikut saya”. lalu akupun mengikuti ia untuk naik kapal, namun tiba-tiba aku kehilangan ia saat kapal sudah berjalan. Aku pun duduk diam sambil menunggu beberapa hari kapal ini sampai.
Setibanya kapal ini, aku keluar dan bertanya pada petugas dimana sekarang aku berada petugas itu mengatakan bahwa ini ada di Batam lalu terkejutlah diriku, kenapa aku ada dibatam sedangkan orang tadi mengatakan bahwa kapal ini akan mengantarku ke Jakarta lalu apa yang harus aku lakukan?

Akhirnya terhitung dua bulan aku terdampar di batam, ketika ada seseorang yang mengajak ku untuk merantau ke malaysia. Di malaysia aku hanya menjadi buronan polisi karena tidak mempunyai identitas yang jelas. Aku mengikuti sekelompok orang berkerja dalam hutan. Setiap sepanjang malam kami bekerja keras tanpa ada penerangan cahaya guna menghindari kecurigaan polisi, di siang hari kami beristirahat. Cukup lama aku menjalani hidup seperti ini hampir belasan tahun aku di merantau di malaysia kehidupan yang tak teratur, menjadi buronan polisi sungguh tidaklah tenang hingga suatu saat aku mulai lelah dengan kehidupan ini aku ingin kembali ke tanah air ku tempat dimana aku dilahirkan yaitu Indonesia karena hdiup dinegara orang tidak lah seenak hidup di negara sendiri ditambah tidak ada identitas yang jelas. Banyak pengalaman yang ku alami selama tinggal dinegara orang. dan pada akhirnya aku pulang ke indonesia tahun 2002 tepatnya sasaran utama ku merantau, Jakarta. ya jakarta adalah kota impianku selama ini. Hanya dengan bermodalkan mental, tak punya pendidikan dan mempunyai cita-cita yang tinggi. itu yg aku fikirkan. Jika aku menjadi orang sukses aku ingin membuktikan pada orang-orang dikampung terutama kepada teman-temanku yang dulu mengejeku akan ku bawakan segudang celana jeans ke hadapan mereka.
Namun, apa yang aku fikirkan tidaklah benar. Jangankan tempat tinggal, makan saja aku tak mampu karna harga makanan yang terlampaui mahal, sampai akhirnya ada orang yg menunjukan kepadaku untuk mencoba datang kerumah orang flores yang kemungkinan besar satu kampung.
aku diberikan alamatnya lalu ku coba untuk datang. Dan ya benar, beliau adalah seorang perantau jauh sebelum aku, juga dari flores yang kini sukses dijakarta namun walaupun suskses beliau pun tak sombong  beliau sudah ku anggap sebagai kakak kandung ku sendiri walau aku memanggil beliau dengan sebutan ‘om’  beliau bernama Nico. Seseorang yang berhati mulia dan baik sekali, aku diperbolehkan untuk tinggal ditempatnya bersama anak-anak dan istrinya tentu juga bersama ia. Dari sini pula panjang pengalamanku sampai aku mendapat pekerjaan mempunyai tempat tinggal dan mendapatkan pendamping hidupku yang sangat cantik dan baik hati tentunya hidupku bagaikan dunia terbalik, menjadi lebih baik. Semua kulakukan atas dasar usaha dan doa ku sehingga sekarang kehidupan ku lebih lebih lebih baik.
suatu saat aku dan istriku mendapat rejeki dari yang kuasa aku memutuskan untuk berkunjung ke kampung halaman flores bersama sang istri, setibanya disana seperti tersambar petir hatiku mengetahui bahwa kedua orangtua ku sudah tiada akibat bencana alam tsunami pada tahun 12 desember 1992 tepat setahun aku pergi dari rumah kini tiada lagi rumah yang dulu ku tempati karena sudah menjadi lautan bahkan orang sekitar kampung yang kini menetap didataran lebih tinggi menganggapku sudah tiada dikarenkan tidak ada kabarku selama bertahun-tahun. Sungguh seandainya aku tahu akan seperti ini aku takkan pernah mau untuk meninggalkan kampung halaman ini, aku menangis sejadi-jadinya aku menyesal akan perbuatanku. Sehari aku bersembayang didepan makam ayah dan ibuku meminta maaf atas segala kesalahanku.

Semenjak kepulangan ku dari kampung halaman karena aku dan istriku memutuskan untuk menetap dijakarta aku merasa lebih baik dari sebelumnya, pernikahan aku dan sang istri memang masih terbilang baru karena usia pernikahan kami pun baru menginjak tiga tahun dan kami belum dikarunia seorang anak, ya kami bersyukur saja anak adalah titipan yg Kuasa, jika kami belum dipercaya untuk menjaganya apa boleh buat kami tak masalah dengan itu karena kami juga memiliki banyak ponakan-ponakan termasuk ponakan terdekat kami yaitu anak-anak dari pria yang ku sebut om nico. suatu hari saat kami sedang berkumpul bersama dan bercengkrama ponakan ku yang paling kecil bertanya kepadaku “om boy.. om kenapa sih suka sekali memakai celana panjang didalam rumah, akupun tak pernah lihat om memakai celana selutut atau sependek seperti yang sering ayahku gunakan saat didalam rumah dan om kenapa suka sekali  mengoleksi celana jeans hingga sebanyak yang ku lihat saat bergonta-ganti setiap kali berpergian?”  ya itulah pertanyaan yang diajukan oleh bocah lincah ponakan yang paling kecil diantara kakak-kakaknya. Dengan tersenyum aku menjawab “om dengan ayahmu atau dengan kebanyakan orang, berbeda. Om sangat menghargai dan mencintai sebuah celana panjang dan celana jeans, om punya cerita tersendiri mengenai itu. Karena sebuah cerita yang sangat panjang mengenai celana hingga akhirnya om sampai disini sekarang ”.

inilah kisah hidupku, sebuah jalan kehidupan yang beraneka ragam dengan perputaran yang dapat merubah kehidupan, terkadang kebahagiaan berubah menjadi kesedihan yang mengakibatkan tetesan air mata, terkadang juga justru kesedihan akan melukis senyum dibibir sehingga perubahan yang terjadi itu menjadi sebuah kebahagian. Dari semua inilah aku bisa mengerti arti kehidupan sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belive in

fallin in love again

cinta menurut gue itu..